Pasport – Jawapos 8 Agustus 2011

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport.  Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan.  Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

 

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport.  Setiap mahasiswa  harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.  Dua minggu kemudian,  mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

 

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini?  Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu.   Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.  Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”

Saya katakan saya tidak tahu.  Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

 

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.  Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

 

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu  tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring.  Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

 

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian.  Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.  Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara.  Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi.  Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

 

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan,  dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri.  dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat.  Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

 

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun.  Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia.  Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching.  Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini.  Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

 

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya.  Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi.  Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.  Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri.  Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya.  Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan.  Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

 

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak.  Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan.  Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh.  Rasa percaya diri mereka bangkit.  Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

 

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport.  Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri.  Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.  Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

 

Rhenald Kasali

Guru Besar Universitas Indonesia

 

http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=57

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Jalan Asia Afrika dan Museum Konferensi Asia Afrika

Saksi diplomasi Bangsa Indonesia di mata Dunia

Tidak jauh dari Sumber Hidangan dengan 5 menit menyusuri Jalan Braga setelah menyebrangi Jalan Naripan kita akan menemukan Jalan Asia Afrika,yang merupakan salah satu Jalan paling bersejarah di Kota Bandung,Indonesia dan bahkan di mata dunia. Karena di Jalan inilah di sebuah gedung bernama GEDUNG MERDEKA yang awalnya dikenal dengan nama gedung Societeit Concordia tempat para kalangan atas Belanda berkumpul,di laksanakan sebuah sebuah konferensi besar para pemimpin negara-negara di Asia Afrika antara tanggal 18 April – 24 April 1955,

yang menghasilkan 10 pernyataan penting dari ke 29 negara peserta di kenal dengan sebutan “Dasa sila Bandung” .
(Tanda Jalan Asia Afrika)
Konferensi Asia Afrika tidak bisa dilepaskan dari sebuah bangunan megah dan anggun di sisi sebelah kanan jalan ini.

Gedung yang dahulu bernama “Societeit Concordia” dibangun pada tahun 1895 digunakan sebagai  tempat berkumpul dan berekreasi oleh sekelompok masyarakta Belanda yang berdomisili di Bandung.

Societeit Concordia mengalami pembangunan untuk kedua kalinya pada tahun 1921 dengan gaya art deco hasil rancangan Prof.Ir.Wolff Schoemaker.
Gedung ini berubah menjadi gedung pertemuan yang paling mewah,eksklusif dan modern di nusantara.
(Gedung Merdeka)
Pada tahun 1954 Pemerintah Republik Indonesia memilih Bandung sebagai kota dimana diselenggarakannya Konperensi Asia Afrika,maka Gedung Societeit Concordia digunakan tempat berlangsungnya konperensi tersebut dengan alasan gedung tersebut adalah tempat pertemuan paling besar dan megah di Bandung.
(Gong Perdamaian Negara-negara Asia Afrika di dalam Gedung Merdeka Foto By Yasirati Ilyas)
(Salah Satu Bagian Dalam Gedung Merdeka Foto By.Astri Haryani)
Selain itu posisinya yang berada di tengah kota dan berdekatan dengan Hotel Sayoy Homann dan Hotel Preanger,dan menjelang dilaksanakannya Konperensi Asia Afrika gedung ini berubah menjadi “Gedung Merdeka” yang masih bisa kita lihat sampai sekarang.
Museum Konferensi Asia – Afrika
(Bagian Depan Museum Konferensi Asia – Afrika)
Sebagai tempat penyimpanan dan panyajian benda-benda,hasil reportase beserta gambar-gambar saksi bisa di selenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) di bangunlah Museum Konferensi Asia Afrika (Museum KAA) di sebelah kanan Gedung Merdeka.
Museum KAA ini di resmikan pada tahun 1980 oleh Presiden Soeharto sebagai puncak peringatan 25 tahun penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955.

Museum Asia Afrika ini menyajikan berbagai benda dan gambar-gambar “saksi bisu” berlangsungnya rangkaian  sebuah pertemuan besar para pemimpin bangsa negara-negara di Asia Afrika ,dimulai dari peristiwa Tugu,Konperensi Kolombo,Konperensi Bogor dan sampai akhirnya pada pelaksanaan Konperensi Asia Afrika pada tahun 1955.

( Bola Dunia Yang terdapat di Bagian dalam Musem KAA)

Yang perlu di perhatikan bahwa di bagian pameran utama dari museum ini kita tidak di perkenankan untuk mengambil foto. Foto – foto yang kami ambil ini berada di bagian pintu masuk museum KAA dekat resepsionis,

(Replika Ketika Presiden Soekarno Berpidato)

Selain itu di Museum KAA ini juga terdapat perpustakaan untuk menunjang semua kegiatan museum.

Perpustakaan ini memiliki sejumlah koleksi buku mengenai buku-buku sejarah,sosial,politik dan kebudayaan negara-negara Asia Afrika serta negara-negara lainnya,dokumen-dokumen mengenai Konperensi Asia Afrika,dokumen-dokumen lanjutan konperensi serta majalah-majalah dan surat kabar.

Disalah satu bagian Museum KAA ini juga terdapat ruang audio visual sebagai sarana pemutaran film dokumenter mengenai kondisi dunia tahun 1950-an,konperensi Asia Afrika dan konperensi
lanjutannya.

(Jam Buka Museum KAA)
Museum KAA buka setipa hari Senin sampai Jumat pukul 08.00 – 15.00
Istirahat 12.00 – 13.00
Sabtu 08.00 – 12.00
Masuk gratis tanpa dipungut biaya jadi jangan ragu untuk datang berkunjung.
Apabila kita beruntung bisa masuk ke ruang utama Gedung Merdeka kita bisa menyaksikan kemegahan dan kemewahan Gedung Societeit Concordia tempo dulu berupa lantainya yang terbuat dari marmer Italia.
(Museum Konferensi Asia Afrika)

Sudah selaknya kita patut berbangga hati sebagai warga negara Republik Indonesia karena ketika Republik ini baru menginjak usia 10 tahun,usia yang bisa di sebut masih kanak-kanak mampu menggetarkan dunia dengan berhasil menyelenggarakan Konferensi para pemimpin negara-negara Asia dan Afrika,sehingga Indonesia di pandang di kancah Internasional.

Semua bukti sejarah tersebut masih kita saksikan di Museum Konferensi Asia Afrika yang terletak di jalan bernama sama.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Menelusuri Jejak Sejarah Tatar Sunda di Museum Sri Baduga

Terletak di Jalan BKR No.185 Bandung tepatnya di depan Monumen Bandung Lautan Api (BLA) atau yang oleh penduduk Bandung di namakan lapangan Tega Lega,terdapat Museum Negeri Provinsi Jawa Barat atau yang lebih di kenal dengan sebutan Museum Sri Baduga.

(Bagian Depan Museum Sri Baduga)

Museum Sri Baduga merupakan satu-satunya museum yang di miliki dan di kelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat,karena museum lainnya yang terdapat di Kota Bandung seperti Museum KAA,Museum Geologi dan Museum Mandala Wangsit di kelola oleh Departemen Luar Negeri,Departeman ESDM dan KODAM Siliwangi.

Meseum Sri Baduga didirikan pada tahun 1970 di bangunan bekas gedung kewadanaan Tega Lega dan diresmikan penggunaanya pada tahun 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu, Prof.DR.Daoed Yoesoef.

Sri Baduga sendiri diambil dari nama gelar seorang raja Pajajaran Sri Baduga Maha Raja (Ratu Jayadewata) yang memerintah antara tahun 1474 – 1531.

Ketika kita memasuki Museum Sri Baduga kita seperti diajak berpetualang melihat sejarah perkembangan Jawa Barat dan Bandung di masa lampau dan masa sekarang karena museum ini memiliki berbagai benda koleksi yang menjelaskan sejarah tatar parahyangan dari masa prasejarah,masa kerajaan,masa kolonial dan masa sekarang.Selain itu museum ini juga memiliki berbagai koleksi mengenai kebudayaan di Jawa Barat.

(Koleksi Sejarah Geologika atau Geografika)

Koleksi di museum sri baduga di bagi kedalam beberapa jenis dan ruang pamer diantaranya :

– Geologika/Geografika
-Biologika
-Etnografika
-Historika
-Numismatika/Heraldika
-Filologika
-Keramologika
-Seni Rupa
-Tekhnologika

Dibagian ruangan sayap kanan kita bisa menyaksikan sejarah terbentuknya Jawa Barat dan Bandung dari semula berbentuk gunung berapi sunda,danau purba Bandung,sampai sekarang menjadi sebuah kota. Setelah menikmati pemaraparan terbentuknya geografi Jawa Barat kita disambut dengan pemaparan mengenai hewan – hewan has Jawa Barat.

(Replika Gua Batu Manusia Purba)

Salah satu peninggalan sejarah dan kebudayaan di Jawa Barat adalah peninggalan masa prasejarah berupa kerangka manusia purba yang pernah tinggal dan hidup di sekitar Jawa Barat ada juga peninggalan berupa sarkofagus dan kubur batu.Peninggalan-peninggalan tersebut banyak ditemukan disekitar gunung yang mengelilingi Kota Bandung,yang menguatkan pernyataan bahwa dahulu Bandung merupakan sebuah danau purba dan dipinggir danau tersebut terdapat kehidupan.

(Arca Peninggalan Masa Kerajaan Hindu dan Budha)

Seperti diketahui bahwa di Indonesia pernah mengalami masa kerajaan Hindu dan Budha begitupun di Jawa Barat.Menurut sejarah pernah berdiri beberapa kerajaan Hindu di tatar sunda seperti kerajaan Tarumanegara,Pajajaran,dan Galuh Pakuan,hal ini dibuktikan dengan peninggalan arca-arca dewa Siwa salah satu dewa sembahan para penganut Hindu yang ditemukan di sekitar Tasikmalaya.

Salah satu bukti bahwa di tatar sunda pernah berdiri kerajaan hindu bisa kita lihat peninggalannya berupa Candi Hindu di Kampung Pulo wilayah Cangkuang,Kec.Leles – Garut yang merupakan satu-satunya situs candi hindu di yang ditemukan di Jawa Barat.
Dilantai dua bangunan kita akan disajikan berbagai koleksi kebudayaan di Jawa Barat sepeti masuknya kebudayaan Cina berupa alat-alat pemujaan,Kebudayaan Islam berupa Kitab Suci Alquran, masuknya agama Kristen berupa lonceng gereja,teks alkitab berbahasa melayu dan batu nisan yang di temukan di Dayeuh Kolot,dan perkembangan masyarakat agraris di tanah sunda.
( Dapur Tradisional Sunda)

Salah satu hal yang menarik di Museum Ini adalah terdapatnya berbagai macam koleksi kebudayaan asli Jawa Barat berupa model bentuk rumah asli tatar sunda,baju pengantin dari berbagai daerah di Jawa Barat,diorama upacara adat,alat-alat pertanian dan perikanan,furniture dan dapur tradisional.Benda-benda tersebut mungkin sudah sulit untuk kita temui di masa sekarang ini.

Museum Sri Baduga buka setiap hari dari mulai Pukul 08.00 – 15.00 kecuali pada hari libur nasional museum tutup.

Harga tiket sangat terjangkau Dewasa/Mahasiswa Rp.2000,Anak-anak/Pelajar Rp.1000,Rombongan lebih dari 40 orang diskon 10%.
Dengan hanya Rp.2000,00 kita sudah bisa menyelami keunikan sejarah dan kebudayaan bangsa,jadi jangan ragu untuk berkunjung ke museum yang ada di kota kita,karena dengan memasuki museum kita seolah-seolah diajak kemasa lampau dan menyelami seluk beluk kebudayaan serta ilmu pengetahuan.
Mari kita ikut terlibat dalam program “Tahun Kunjungan Museum” Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia dan ikut serta menjaga kelestariannya.

 

Dipublikasi di Traveling | Tag , , | Meninggalkan komentar

Menikmati Jajanan “Masa Kolonial” di Sumber Hidangan

Ingin menikmati makanan khas kolonial Belanda?berbagai macam kue dan es krim “jaman doeloe”?

Sumber Hidangan lah tempatnya yang masih berada di kawasan Jalan Braga.Di tempat ini saya bisa menikmati berbagai macam roti,kue,masakan, dan es krim khas masa kolonial dengan cita rasa Belanda yang sangat kental.Tak jarang saya mengajak serta keluarga dan sahabat untuk berkunjung dan menikmati berbagai sajian di Sumber Hidangan.

(Bagian Dalam Sumber Hidangan)
Suasana kuno langsung terasa ketika memasuki ruangan yang tidak terlalu besar ini,gaya arsitektur dan interior banguan tersebut masih di pertahankan dari sejak pertama kali di bukanya pada tahun 1929 dengan nama Het Snoephuis atau Rumah Jajan. Pada masa itu Sumber Hidangan atau Het Snoephuis di kenal sebagai tempat para Serdadu Belanda dan Pegawai Menengah Belanda menghabiskan waktu bersama keluarga dan kolega menikmati cemilan berbagai macam kue,roti dan es krim.
(Mesin Kasir Kuno yang masih terdapat di restoran Sumber Hidangan)

Salah satu keunikan yang masih dipertahankan di Sumber Hidangan adalah dalam proses pembuatan dan penyajian roti dan berbagai macam kue.Roti yang masih “Fresh from the oven” di bungkus dengan kertas berwarna cokelat yang sudah tidak banyak digunakan lagi pada umumnya.

(Frou-Frou Choc)

Hampir semua roti,kue dan es krim di tempat ini masih di tulis dengan bahasa Belanda seperti Frou-Frou Choc, Kreten Brood,Ananas tart,Chocolade Roostjer,Suiker Hageslag dan masih banyak lagi nama makanan yang sulit untuk di ucapkan.

Sumber Hidangan tidak hanya menyediakan kue,roti dan es krim khas Belanda,tetapi mereka menyediakan juga berbagai macam makanan khas Indonesia seperti nasi goreng,mie goreng dan sate.Bagi anda yang bergama Islam dan yang tidak memakan Babi anda harus sedikit teliti dalam membaca menu karena ada beberapa pastry yang menggunakan daging babi.

( Ice Cafe Glace dan Snow White)

Harga makanan di tempat ini cukup bervariasi dan sangat terjangkau.Untuk kue,roti dan es krim di jual dari harga Rp.2000,00 sampai Rp.15.000,00 untuk beberapa jenis roti khusus seperti roti kura-kura dan buaya di hargai Rp.75.000 – Rp.150.000 tergantung ukuran. Sedangkan untuk hidangan lain berkisar antara Rp.13.000,00 sampai Rp.50.000,00.
Hidangan yang paling banyak di beli orang para pengunjung adalah roti tawar spesial yang masih “fresh from the oven” berharga Rp.9.000,00 dan Nasi Goreng Udang berharga Rp.13.000,00 tapi jangan khawatir semua kue,roti,es krim dan masakan di tempat ini sangan lezat.

    (Berbagai macam Kue dan Pastry di Sumber Hidangan)

Satu lagi hal yang penting tempat ini sulit untuk ditemukan meskipun posisinya berada tepat di samping kiri Jl.Braga karena tidak memasang papan nama yang besar.Hanya ada tulisan “Sumber Hidangan d/h Het Snoephuis 1929″ tertempel pada kaca depan bangunan.

Untuk kawan-kawan yang sedang berada di Bandung atau berencana akan ke Bandung jangan ragu untuk mampir ke Jalan Braga dan menikmati makanan – makanan khas “Jaman Doeloe” di Sumber Hidangan.
Dipublikasi di Traveling | Tag , , | Meninggalkan komentar

Wisata Religi, Sejarah,Arsitektur dan Budaya di Gereja Katedral Bandung

Apabila kita melewati Jalan Merdeka ke arah Jalan Lembong,kita akan menyaksikan sebuah gedung berasiterktur gothic dengan menara tinggi di sisi kirinya,di apit oleh Kantor POLRESTABES Bandung yang dahulu merupakan sekolah para calon guru pada masa kolonial Belanda dan Gedung Hotel Grand Panghegar terdapat Gereja Katedral Santo Petrus yang di dirikan pada tahun 1922 sebagai pengganti Gereja Santo Fransiscus Regis yang sudah tidak dapat menampung umat yang semakin bertambah di Kota Bandung gedung gereja tersebut sekarang di gunakan sebagai salah satu bagian dari Kantor Bank Indonesia.

(Pemandangan Gereja Katedral dari arah Jalan Wastukencana)

Sejarah Perkembangan Katedral Bandung
 

Cerita ini dimulai sekitar tahun 1878, di mana saat itu Bandung sebagai ibukota karesidenan Priangan sudah cukup ramai, namun belum memiliki pelayanan umat Katolik sendiri. Untuk melayani umat, pastor didatangkan dari stasi terdekat, yaitu Cirebon yang berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia. Ketika jalur kereta api Batavia – Bandung dibuka pada tahun 1884 dan transportasi menjadi lebih mudah, pelayanan umat secara tetap di Bandung segera dipersiapkan. Maka, dibangunlah gereja pertama yang berukuran hanya 8 x 21 meter persegi dilengkapi sebuah pastoran di Schoolweg (kini Jalan Merdeka), berdekatan dengan gudang kopi milik Pemerintah Kolonial Belanda. Gereja ini diberi nama St. Franciscus Regis dan diberkati oleh Mgr. W. Staal pada tanggal 16 Juni 1895.
Pada tanggal 1 April 1906, Bandung memperoleh status Gemeente (setingkat kotamadya), sehingga berhak menyelenggarakan pengelolaan kota sendiri. Sejak saat itu, Kota Bandung mulai berbenah, antara lain dengan melaksanakan pengembangan permukiman kota untuk warga Belanda dan pembangunan kawasan pusat pemerintahan kotamadya (civic centre) berupa Gedung Balaikota berikut sebuah taman (kemudian disebut Pieterspark) tepat di lokasi bekas gudang kopi. Melengkapi civic centre ini, kelak dibangun berbagai bangunan publik di sekitar balaikota seperti sekolah, bank, kantor polisi, dan gereja, baik untuk umat Katolik maupun Protestan.
Pada tanggal 13 Februari 1907, pemerintah mengeluarkan keputusan untuk memisahkan Priangan, termasuk Kota Bandung, secara administratif dari Distrik Cirebon. Kota Bandung ditentukan sebagai sebuah stasi baru di Jawa Barat yang dipimpin Pastor J. Timmers dari Cirebon yang sudah 4 tahun menetap di Bandung.
Dalam penyelenggaraan gereja selama 4 tahun berikutnya ternyata jumlah jemaat semakin bertambah hingga mencapai 280 orang pada Perayaan Ekaristi. Saat itu, jumlah umat Katolik di Bandung sendiri telah mencapai 1800 orang. Maka Gereja St. Franciscus Regis pun diperluas karena tidak cukup lagi menampung jemaat yang semakin banyak. Setelah melalui beberapa alternatif dipilihlah sebuah lahan bekas peternakan di sebelah Timur Gereja St. Franciscus Regis, di Merpikaweg (kini jalan Merdeka), sebagai lokasi gereja baru. Perancangnya pun telah terpilih, yaitu Ir. C.P. Wolff Schoemaker, seorang arsitek berkebangsaan Belanda.

Pembangunan gedung gereja yang baru dilaksanakan sepanjang tahun 1921. Setelah selesai, geraja yang baru itu diberkati oleh Mgr. Luypen pada tanggal 19 Februari 1922, dan dipersembahkan kepada Santo Petrus, yang merupakan nama permandian dari Pastor P.J.W. Muller, SJ. Pada hari itu juga, Mgr. Luypen meresmikan dan memberkati Pastoran Santo Petrus, yang saat itu termasuk Vikariat Batavia.

Dari Stasi Menjadi Keuskupan

Empat tahun setelah Gereja St. Petrus didirikan, sebagian dari Vikariat Batavia, termasuk Bandung, dialihkan kepada Ordo Salib Suci. Tiga orang imam Salib Suci yang pertama adalah Prior J.H. Goumans, OSC sebagai misionaris superior (pemimpin misi) di Bandung, M. Nillesen, OSC, dan J. de Rooy, OSC.
Pelayanan di Bandung dikembangkan melalui sekolah, balai kesehatan, rumah sakit, dan rumah yatim piatu. Semakin hari pelayanan di Bandung dan sekitarnya semakin maju dan berkembang, maka pada tahun 1932 karya misi di Bandung dijadikan sebuah Prefektur Apostolik, yang kemudian ditingkatkan lagi menjadi Vikariat Apostolik pada tanggal 11 Februari 1942.
Kabar gembira ini datang di tengah-tengah situasi pecahnya Perang Dunia II yang juga melibatkan daerah kolonial Hindia Belanda. Kegairahan menyambut acara konsekrasi uskup berlangsung dalam bayang-bayang kekhawatiran peperangan, sehingga Mgr. J.H. Goumans dianjurkan berangkat ke Yogyakarta untuk menerima pentahbisan di sana, namun kemudian diperoleh kabar bahwa pentahbisan di Yogyakarta pun tidak dapat dilakukan, apalagi dengan pendudukan Jepang atas Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942.
Di tengah hambatan tersebut, Mgr J.H. Goumans mengabarkan kepada Mgr P. Willekens dan Mgr. A. Soegijapranata agar konsekrasi uskup dapat diadakan di Gereja St. Petrus Bandung pada tanggal 22 April 1942. Rencana ini segera beredar dari mulut ke mulut dan kemudian, walaupun tidak dilakukan dengan perayaan besar dan dokumentasi foto, acara ini tidak mengalami hambatan yang berarti.
Gereja sempat mengalami masa-masa sulit ketika sebagian besar misionaris yang berkebangsaan Belanda harus masuk kamp tawanan Jepang. Mereka dapat kembali bertugas setelah Jepang kalah perang dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.
Pada suatu hari di tahun 1950, ketika sedang mengajar, Mgr. J.H. Goumans, OSC mendapat serangan jantung dan harus masuk Rumah Sakit St. Borromeus. Karena kesehatannya tidak bertambah baik beliau harus meninggalkan Indonesia. Satu tahun kemudian beliau mohon berhenti sebagai Vikaris Apostolik Bandung, yang dikabulkan oleh Paus Pius XI. Maka, Tahta Suci Roma mengangkat Mgr. P.M. Arntz, OSC Superior yang baru, sebagai Vikaris Apostolik yang menggantikan beliau.
Tanggal 3 Januari 1961 adalah tonggak sejarah baru bagi Gereja Katolik Indonesia, di mana saat itu Vikariat Apostolik Bandung ditingkatkan menjadi Diosis atau Keuskupan. Sejak saat itu, Mgr. P.M. Arntz sungguh-sungguh menjadi Uskup Bandung, tidak lagi ditempeli nama keuskupan lain. Dalam pengangkatannya, sekaligus disebutkan pula katedralnya, yaitu Gereja St. Petrus, Bandung.
Kata ‘katedral’ berasal dari kata ‘cathedra’ (Bahasa Latin: tahta untuk menyebut tahta uskup). Cathedra adalah lambang kewenangan seorang uskup atas diosisnya. Tahta ini diletakkan di suatu gereja yang terpilih sebagai gereja utama dalam suatu diosis, yang kemudian disebut gereja katedral atau katedral saja. Saat ini, Tahta Uskup Bandung diletakkan di dalam panti imam, bersandar di dinding Utara, Gereja Katedral St. Petrus, Bandung.
Pustaka:Buku Kengangan 80 Tahun Gereja Katedral Bandung dan Ziarah Arsitektural Katedral St. Petrus Bandung.
Sebagai Tempat Wisata Arsitektur dan Sejarah

Seperti halnya bangunan tua lainnya di Bandung Gereja Katedal pun merupakan bagian dari cagar budaya yang di lindungi karena nilai sejarah yang tersimpan.
Melihat di negara-negara tetangga seperti Singapura,Malaysia,Thailand,Filipina dan Vietnam bahwa tempat – tempat ibadah tua dan unik di gunakan sebagai tempat pariwisata yang di layak di kunjungi tanpa menggangu fungsi utamanya sebagai tempat ibadah,sebenarnya Gereja Katedral pun bisa di gunakan seperti demikian tercatat selain Katedral Santo Petrus masih terdapat beberapa tempat Ibadah lainnya yang memiliki potensi wisata religi,budaya,sejarah dan arsiktetura diantaranya Gereja GPIB Bethel,Gereja GKI Taman Cibunut,Gereja GPIB Maranatha,Mesjid Cipaganti dan Vihara Vipassana Graha.
(Pintu Masuk Katedral Santo Petrus)
Memasuki ruangan dalam Gereja Katedral dari pintu sayap kanan kita akan di sambut oleh suasana yang sangat hening sampai setiap suara langkah kaki kita bergema ke seluruh ruang gereja.
Hal pertama yang akan kita lihat adalah dereta kursi panjang tempat duduk umat lengkap dengan tempat berlutut,kursi-kursi berbahan kayu jati tersebut sudah ada dari sekitar tahun 1922 ketika masa awal gereja itu di gunakan.
(Altar ,Tabernakel dan Cathedra di Ruang Ibadah)
Hal lain yang akan kita lihat adalah Altar dan Tabernakel tempat penyimpanan hosti yang sudah di konsekrasi,salah satu keunikan dari tabernakel yang ada di Katedral Santo Petrus adalah bentuknya seperti replika Basilika Santo Petrus di Vatikan,yang
(Interior Dalam Gereja Katedral Santo Petrus)
di apit oleh dua patung malaikat berwarna putih menyangga tempat lilin yang hanya di nyalakan pada saat-saat misa khusus seperti misa pontifical bersama Bapak Uskup,misa pekan paskah,misa natal dan misa khusus lainnya.
Di atas tabernakel terdapat mozaik yang menggambarkan peristiwa wafatnya Yesus di kayu salib,Yesus di persembahkan di kenisah dan Yesusu duduk di tahtaNya.
Selain di atas tabernakel di pintu sayap kanan dan kiri pun terdapat mozaik berbentuk bulat yang menggambarkan buku merpati sebagai lambang dari Roh Kudus dan tulisan IHS “Iesus Hominum Salvator” yang berarti Yesus Penyelamat Manusia.
Di dinding atas terdapat tulisan besar berisi ayat kitab suci
“Marilah kepadaKu, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu” yang di ambil dari Matius 11 : 28.
Bagian depan dari bangunan gereja ini di samping pintu masuk utama terdapat beberapa patung orang kudus dalam tradisi Gereja Katolik seperti Santo Petrus,Santo Yusuf,Santo Antonius Padua dan Santo Igantius Loyola.
(Patung Santo Ignatius Loyola)
Di samping kanan terdapat satu ruangan khusus untuk berdoa dan replika dari patung “Pieta” yang berarti duka cita karya Michael Angelo yang aslinya di simpang di Vatikan.
(Replika Patung Pieta)
Di sudut kiri terdapat bejana baptis bayi kuno yang terbuat dari marmer putih sekarang bejana baptis tersebut sudah tidak di gunakan lagi,keunikan lainnya di gereja ini masih tersipan Orgel Pipa Lavabre yang masih berfungsi sampai sekarang.
Bagaimana anda tertarik untuk berkunjung?
Gereja Katedral terbuka untuk umum setiap senin sampai sabtu dari Pukul 05.30 – 08.00 menjelang dan setelah misa pagi dan pukul 16.00-20.00 di sore hari.
Untuk hari Minggu gereja di gunakan untuk misa minggu sehingga tidak di buka untuk kunjungan wisata.
Peraturan baru bahwa apabila kita akan berkunjung secara rombongan kita di wajibkan untuk meminta izin dari Pastor Kepala Paroki terlebih dahulu yaitu Pst.Leo Van Beurden OSC melalui sekretariat Paroki.
Dipublikasi di Traveling | Tag , , | Meninggalkan komentar

Bernostalgia di Jalan Braga

Sekilas Tentang Jalan Braga

Dari pedatiweg sampai Bragaweg.

Jalan Braga mungkin inilah salah satu nama jalan yang paling legendaris di Kota Bandung,namanya sudah sangat akrab di telinga para wisatawan yang akan berkunjung ke kota kembang ini.
Jalan Braga bisa di kategorikan sebagai kawasan heritage area di Bandung seperti layaknya kawasan Kota Tua Jakarta,Kota Lama Semarang dan Jalan Ijen Malang.
Di sepanjang braga kita akan menyaksikan bangungan-bangunan tua nan anggung dan bernilai arsitektur tinggi peninggalan masa-masa kejayaan Bragaweg pada masa itu.
Saat ini  mayoritas bangunan-bangunan tua tersebut tetap berfungsi sebagai pertokoan seperti halnya braga pada masa lalu yang di kenal sebagai kawasan komersial dan hiburan.

(Salah Satu Bangunan Tua yang berfungsi sebagai Mall)

Pada mulanya sekitar jalan Braga hanya sebuah jalan sempit,sunyi dan becek di depan kawasan permukiman sehingga orang-orang menyebut kawasan Braga masa itu dengan sebutan “Jalan Culik” karena kawasan tersebut cukup rawan akan tindak kejahatan.

Sekitar tahun 1900 yang asal mulanya di kenal sebagai jalan culik,orang-orang mulai menyebut kawasan tersebut dengan sebutan “Pedatiweg” atau jalan pedati di sebut demikian karena pada masa itu jalan braga di lewati oleh pedati yang mengangkut hasil bumi dan pertanian.

Memasuki era tahun 1920-1930 merupakan masa kejayaan jalan Braga, dari yang awalnya hanya sebuah jalan sempit braga mulai menata diri menjadi kawasan paling prestisius ketika para pengusaha Belanda merubah daerah yang gelap dan sunyi ini menjadi arena pusat perbelanjaan dan hiburan di tandai dengan dibukanya berbagai toko fashion,restoran dan bar tempat para tuan-tuan dan nyonya-nyonya Eropa melepaskan penat dari rutinitas dengan menghabiskan uang mereka.
Salah satu toko yang paling terkenal adalah toko Onderling Belang.

 (Jalan Braga tahun 1920 sumber Wikipedia)

Dari Jalan Braga pula lah Bandung di kenal dengan pusat mode di Hindia – Belanda dan Asia Tenggara dari sanalah lahir sebutan “Parij Van Java”.
Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan para warga Bandung khususnya kalangan tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann,gedung perkantoran dan lain-lain di beberapa blok di sekitar jalan ini juga meningkatkan kemasyhuran dan keramaian jalan ini.

(Jalan Braga era 1930-an sumber Wikipedia)

Berkembangnya Jalan Braga dalam sisi positif dengan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung saat itu,berjalan beriringan pula dengan sisi negatifnya.Selain dikenal sebagai pusat perbelanjaan dan hiburan,jalan braga juga sangat di kenal sebagai kawasan “lampu merah” atau kawasan remang-remang.
Sehingga perhimpunan masyarakat warga Bandung saat itu membuat selebaran dan pengumuman agar “Para Tuan-tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah“.

(Toko Buku Djawa salah satu bangunan tua di Braga)
Di sepanjang jalan Braga juga kita dapat menemukan beragam toko souvenir,benda antik dan lukisan yang kita bisa dapat dengan harga murah asal pintar menawar.
(Penjual lukisan di sepanjang jalan Braga)

Seperti apa Braga saat ini??
Masih tetap menjadi kawasan perbelanjaan dan hiburan di tempat ini kita masih bisa menemukan berbagai macam toko,restoran dan bar.Kita juga masih bisa menikmati bangunan tua dan cantik peninggalan masa lampau sehingga braga masih banyak di kunjungi oleh para wisatawan yang ingin menikmati sensasi “jaman doeloe”.
Kawasan ini juga merupakan tempat favorit untuk mengambil foto tak jarang juga di gunakan para calon pasangan untuk melakukan prawedding foto.

Anda tertarik??
Kunjungilah Braga di waktu senggang anda ketika berada di Bandung.

Dipublikasi di Traveling | Tag , | Meninggalkan komentar

Bebas Visa dan Visa On Arrival Bagi pemegang Paspor Indonesia

Bagi pemegang paspor Indonesia di berikan fasilitas bebas visa dan Visa On Arrival dari beberapa negara yang memiliki kerja sama dengan Indonesia seperti negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
A.Bebas Visa
Untuk negara yang memberikan fasilitas bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia kita tinggal masuk ke negara tersebut tanpa harus mengajukan visa di kedutaan besar negara yang akan kita tuju.
Setelah petugas cek imigrasi di negara yang kita datangi melihat paspor,form imigrasi (arrival form) yang harus kita isi lengkap sebelumnya,memberikan beberapa pertanyaan dan mengamati wajah kita Sang petugas imigrasi akan membubuhkan cap sakti di paspor kita tanda kita sudah di restui untuk masuk ke negaranya.
( Contoh Form Imigrasi Singapore )
*Ingat simpan baik-baik kartu imigrasi tersebut jangan sampai hilang.
(Cap kedatangan dan Keluar dari Negara pemberi bebas visa)
B.Visa On Arrival (VOA)
Selain pemberian fasilitas bebas visa bagi pemegan paspor Republik Indonesia ada juga fasilitas visa on arrival atau pengajuan visa langsung di negara yang kita tuju.
Berbeda dengan negara-negara yang mengharuskan kita mengajukan permohonan visa sebelum kita berangkat ke negara mereka,kita dapat mengajukan permohonan langsung pada saat kita sampai di negara yang kita tuju dimana negara tersebut memberikan akses VOA bagi pemegang paspor Indonesia.
Pengajuan VOA tersebut bisa di lakukan di Bandara,Pelabuhan dan Perbatasan antar negara (Contoh perbatasan Thailand dan Kamboja).
Pengajuan VOA juga bisa di lakukan di Kedutaan Besar atau Konsulat Jendral di negara tersebut.
(Counter Visa On Arrival di salah satu bandara di India – http://www.canadaupdates.com)
Proses pengajuan Visa On Arrival tidak lah sulit,kita tinggal mengisi formulir permohonan dengan lengkap,melampirkan pas foto 3×4 dan membayar biaya pembuatan VOA antara US$20 – US$30.
Negara-Negara yang memberikan akses bebas visa dan Voa bagi pemegang paspor Indonesia.
ASIA
a.Bebas Visa
-Brunneri Darussalam 14 Hari
-Hongkong SAR        30 Hari
-Iran                7  Hari
-Macao SAR           30 Hari
-Malaysia            30 Hari
-Filipina            21 Hari
-Singapore           30 Hari

-Taiwan*             30 Hari
*(pengunjung harus memiliki visa yang masih berlaku atau izin tinggal untuk negara Amerika Serikat, Kanada, Jepang, UE, Australia atau Selandia)

-Thailand            30 Hari
-Vietnam             30 Hari

b.Visa On Arrival

-Kamboja             30 Hari
-Laos                14 Hari
-India               30 Hari
-Maladewa (Maldive)  30 Hari
-Nepal               30/60 Hari
-Oman                30 Hari
-Srilanka            30 Hari
-Tajikistan          45 Hari (dengan surat undangan atau mengikuti tour agent di Tajikistan)
-Timor Leste         30 Hari
-Jordania            30 Hari

AFRIKA

a.Bebas Visa

-Maroko              90 Hari
-Seychelles          30 Hari

b.Visa On Arrival

-Komoro                ???
-Mozambik            30 Hari
-Tanzania            30 Hari
-Zambia              30 Hari
-Zimbabwe            30 Hari
-Mesir               30 Hari (dengan menunjukan Student Card)

Eropa

Andora                ???
Armenia             120 Hari (VOA)
Belarus              30 Hari (Diperlukan invitatin voucher dari tour agent di Belarus-VOA)
Kroasia              14 Hari (Khusus Paspor Diplomatik dan Dinas)
Kosovo               90 Hari
Serbia               14 Hari (Khusus paspor diplomatik)
Rusia                14 Hari (Khusus paspor diplomatik)
Turkey               30 Hari (VOA) 

OSENIA

Kepualan Cook        31 Hari
-Fiji                120 Hari
-Mikronesia           30 Hari
-Niue                 30 Hari (VOA)
-Palau                  ???   (VOA)
-Samoa                60 Hari

AMERIKA TENGAH

Bermuda              180 Hari
-Kostarika             30 Hari (Harus memiliki cap USA,Canada atau Uni Eropa 3 bulan lebih)
-Kuba                 Harus membeli kartu turis sebelum kedatangan
-Jamaika              180 Hari (Untuk USA dan Canada permanent residence)
-Saint Vincent&Grenadines 30 Hari

Amerika Selatan

Chili                 90 Hari
-Kolombia              90 Hari
-Ekuador               90 Hari
-Haiti                 90 Hari
-Peru                  90 Hari

Nah…sekarang kita sudah tahu bahwa ada fasilitas bebas visa dan visa on arrival bagi pemegang paspor Indonesia,lihat daftar di atas apakah negara yang akan anda tuju termasuk dalam negara pemberi fasilitas tersebut.
Ayoo…rencanakan perjalanan anda.
Dipublikasi di Tips dan Trik, Traveling | Tag , , | Meninggalkan komentar